Lala merasa senang karena menemukan peninggalan lain dari ayahnya. Meski hanya sebuah surat, setidaknya dia memiliki benda berharga lainnya yang mengingatkannya pada ayah di tempat ini.

"Apakah tempat itu jauh dari sini?" tanya Lala dengan antusias.

"Tempat itu agak jauh, di bagian utara pulau ini. Perlu waktu lumayan lama untuk ke sana," Leena menceritakan singkat pengalaman dia saat pertama kali tiba di pulau ini.

Lala kemudian menatap Leena seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Utara? Aku bersama pasukan Kane tiba di pulau ini melalui bagian utara," katanya, mencoba mencerna informasi tersebut. "Ternyata kalian pernah tinggal di tempat itu."

Lynx berpikir sejenak. "Aku rasa surat ini mengandung hal penting yang mungkin hanya kamu yang bisa memahaminya. Aku akan ke sana untuk mengambilnya," katanya dengan serius.

Leena memegang tangan Lynx dan menggelengkan kepalanya. "Kamu diperlukan di sini, Lynx. Biarkan aku saja yang pergi bersama beberapa orang ke tempat itu. Sekalian, aku bisa melatih kemampuanku," ujarnya dengan penuh keyakinan.

Lynx menatap mata Leena dan memegang tangannya. "Terlalu berbahaya. Dengan kecepatanku, aku bisa menempuh tempat itu dengan cepat dan kembali lagi. Aku tidak ingin konsentrasiku terganggu karena khawatir denganmu," ujarnya dengan tegas.

Melihat Lynx yang sudah mengambil keputusan dengan tekad, Leena dan Lala saling berpandangan, lalu memandangi Lynx. "Baiklah. Berhati-hatilah. Aku akan menunggumu di sini," kata Leena.

Sementara itu, di perbatasan wilayah cukup jauh dari kampung Surya, saat matahari bersinar terik menyinari hutan, tiga penjaga yang ditempatkan oleh Lynx sedang bersiaga di sebuah bukit yang menghadap ke lembah luas. Mereka ditugaskan untuk memantau keadaan sebelum musuh mendekat.

"Apa kau mendengar sesuatu?" tanya salah satu penjaga, matanya terus mengawasi lembah yang mulai berkabut.

Penjaga satunya memiringkan kepala, menajamkan pendengarannya. "Tunggu... ada suara langkah berat. Banyak langkah. Mereka semakin dekat."

Mereka menajamkan pandangan ke arah asal suara. Tiba-tiba, tubuh salah satu penjaga menegang. "Pasukan besar... itu Monrest!" suaranya penuh kekhawatiran.

Penjaga itu segera berdiri. "Berapa banyak?"

"Ratusan, mungkin ribuan," jawab penjaga satunya dengan nada berat. "Mereka membawa persenjataan lengkap. Lihat itu, ada makhluk mutasi di antara mereka."

Penjaga itu segera mengangkat suaranya. "Kita harus memberitahu Kampung Surya sekarang juga! Mereka bergerak cepat!"

Penjaga lainnya mengangguk tegas. "Kalian tetap di sini dan terus pantau pergerakan mereka. Aku akan mengirimkan sinyal ke kampung."

Dengan sigap, penjaga itu mengambil panah dengan ujung bercahaya dari minyak khusus yang mudah terbakar. Dia menyalakan obor kecil dan menembakkan panah itu ke arah penjaga lainnya yang terlihat di jarak pandang mereka. Terlihat para penjaga tersebut saling memberi sinyal hingga ke kampung Surya.

Di Kampung Surya, seorang penjaga terlihat berlari menuju arah pemukiman setelah melihat sinyal panah api dari arah selatan. Leena, yang sedang berdiskusi dengan para tetua, langsung keluar dari ruangan utama.

"Para tetua, ada sinyal bahaya!" seru penjaga tersebut.

Mochi, yang baru selesai melatih beberapa penduduk, segera bergabung. "Ada apa?" tanyanya dengan nada serius.

"Sinyal bahaya, kemungkinan Pasukan Monrest, mereka pasti mendekat," kata Leena dengan tegas. "Kita harus bersiap!"

Seorang penduduk berlari ke arah mereka. "Lynx! Kita harus memberitahunya!"

Mochi menggeleng, wajahnya terlihat cemas. "Lynx sudah pergi ke utara untuk mengambil sesuatu. Dia berlari sangat cepat, dan aku ragu dia melihat sinyal ini."

Leena mengepalkan tangannya, menahan kekhawatiran. "Kita tidak punya waktu untuk mencarinya. Jika Lynx tidak ada di sini, maka kitalah yang harus memimpin perlawanan ini."

Para tetua dari suku Uksa, Raksa, Yaksa, dan Sinto berkumpul. Salah satu dari mereka, seorang pria tua dari Suku Raksa, berbicara dengan nada mantap. "Kita sudah mempersiapkan ini sejak Lynx menyatukan kita. Senjata sudah siap, ketapel besar, minyak, dan jebakan. Kita harus percaya pada rencana yang telah dibuat."

Mochi memandang Leena dengan bangga. "Kamu sudah belajar banyak. Pimpin kami dengan tenang, dan kita akan bertahan sampai Lynx kembali."

Leena menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan rasa gugup. Ingatannya kembali saat Lynx berpamitan akan meninggalkan kampung Surya dan menyerahkan pimpinan sementara kepada para tetua, namun semua tetua menolak dengan alasan mereka berasal dari suku yang berbeda-beda, jika salah satu dari mereka yang memimpin akan menimbulkan masalah lain nantinya, selain itu mereka semua sepakat memilih Leena sebagai pemimpin sementara selama Lynx tidak ada, karena mereka tahu seberapa dekat Lynx dan Leena, dan mereka dapat melihat pola pemikiran Lynx dan Leena sering terlihat sama.  "Baik, semua orang. Siapkan posisi kalian. Tidak ada waktu untuk ragu. Mereka datang dari arah selatan. Bukankah di lembah sana kita sudah mempersiapkan jebakan?"

"Kita sudah tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat," kata Leena dengan suara mantap, meskipun ketegangan terlihat di wajahnya. "Tapi kita juga sudah mempersiapkan diri. Lynx telah memberikan kita rencana, dan kita hanya perlu menjalankannya."

Para tetua mengangguk, masing-masing memegang peran dalam pertahanan. Mochi melangkah maju, menatap para prajurit yang terdiri dari berbagai suku. "Kalian semua telah berlatih dengan keras. Ini adalah kesempatan kita untuk menunjukkan kepada Monrest bahwa mereka tidak bisa lagi menindas kita. Kalian memiliki keberanian, kecerdasan, dan kerja sama."

"Benar, dilembah jalur itu, kita sudah menyiapkan jebakan bebatuan. Kita bisa arahkan Karim, Kael, Arkha, dan Narendra ke sana," saran salah satu tetua.

"Tetua, Arkha dan Narendra sudah berlari ke arah selatan untuk memeriksa," kata salah satu penjaga."Kael dan Karim belum kembali. Mereka masih mengumpulkan minyak di belakang gunung."

Sementara para tetua sedang rapat, Arkha dan Narendra segera berlari ke arah selatan setelah melihat tanda bahaya, langsung memeriksa bahaya apa yang mengancam.

"Narendra, tanda bahaya ini pasti berhubungan dengan suku Monrest. Bagaimana persiapan jebakan di lembah itu?" tanya Arkha sambil berlari.

"Jebakan di sana sudah siap. Anggota kita selalu berjaga di sana. Kita akan pastikan pasukan Monrest dihancurkan saat melewati tempat itu,kita harus segera tiba disana sebelum mereka melewati lembah itu, karena anggota kita kemungkinan akan ragu melepas jebakannya." jawab Narendra sambil mempercepat larinya.

"Arkha, pasukan Monrest yang akan menyerang kita ternyata datang dalam jumlah sangat banyak. Untung kita sudah mempersiapkan jebakan ini," kata Narendra setelah tiba di lembah dan melihat dari kejauhan rombongan Monrest yang berjalan perlahan.

"Ide Lynx untuk menempatkan orang di kejauhan sangat tepat. Seandainya kita tidak mengetahui tepat waktu, pasti kampung kita dalam masalah besar sekarang," jawab Arkha. "Kemana Kael dan Karim?"

"Mereka belum kembali dari belakang gunung mengumpulkan minyak. Mereka bilang minyak itu akan sangat berguna." Narendra mengingat beberapa hari ini warga kampung sebagian besar sibuk menggali parit yang melingkar lalu diisi kayu dan minyak. Mereka tidak mengetahui apa yang dibuat karena Kael serta Lynx tidak memberitahu mereka, karena itu adalah kejutan untuk musuh saat mereka menyerang.

Tidak lama kemudian, Leena, beserta Mochi dan Lala datang. Dengan kekuatan yang mereka miliki, mereka dapat bergerak lebih cepat daripada orang lain.

"Bagaimana situasinya?" tanya Leena.

"Sekitar seribu prajurit Monrest datang mendekat, anggota kita sudah bersiap," jawab Narendra dengan suara pelan.

"Narendra, bersiaplah, mereka sudah dekat," kata Leena memberikan perintah.

Narendra menganggukkan kepalanya dan bersiap bersama pasukannya yang sebagian besar terdiri dari prajurit Raksa dan Uksa. Mereka menunggu dengan tenang di tempat persembunyian.

Di beberapa tempat yang diperkirakan terdapat jalur yang bisa dilalui pasukan, suku Surya sudah menyiapkan berbagai jebakan sesuai dengan medan di area tersebut.

Di bagian selatan ini, terdapat lembah yang harus dilewati jika ingin menuju Kampung Surya. Lembah itu sangat cocok untuk penyergapan. Lembah ini sudah dipersiapkan dengan jebakan batu besar yang disusun rapi di sepanjang tebing atas. Dengan sedikit dorongan, batu-batu itu bisa meluncur dan menghancurkan pasukan Monrest yang melintas di bawahnya.

Narendra mengintai dan memastikan posisi musuh tepat posisinya, agar terkena jebakan lebih maksimal. Sementara itu, pasukan lainnya sudah mulai berdatangan dan segera mengambil posisi dengan panah di tangan mereka.

